SEMINAR SEHARI ASPEK ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH

Minat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan bekerjasama dengan konsentrasi Sistem Informasi Manajemen Kesehatan mengadakan seminar sehari tentang Aspek Organisasi dan Sumber Daya Manusia dalam Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah pada hari Sabtu 17 Maret 2007 di gedung Ismangoen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada: Prof. Dr. Hardyanto Soebono, SpKK. 

Seminar itu  terdiri dari 3 (tiga) sesi, seperti berikut : 

Sesi I dimoderatori oleh dr Riris Andono Ahmad, MPH dengan pembicara sebagai berikut :1.      DR. Bambang Hartono, SKM, M.Sc (Kepala Pusat Data dan Informasi Kesehatan Departemen Kesehatan RI).Materi: Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) dan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).2.      Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr.PH (Direktur Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM).Materi : Benarkah Pengembangan SIKDA saat ini lebih berorientasi teknis dan pragmatis semata ?3.      Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD (Ketua Minat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan).Materi: Aspek Organisasi dalam Pegembangan SIKDA : Struktural, fungsional atau bentuk ? 

DR. Bambang Hartono, SKM, M.Sc menekankan bahwa :

  1. Dalam sistem kesehatan adalah terdiri dari beberapa sub sistem, antara lain pembiayaan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, SDM kesehatan, upaya kesehatan, obat / perbekalan kesehatan dan manajemen kesehatan. Menurut beliau diantara sub sistem tersebut, manajemen kesehatanlah yang harus dibenahi sekarang karena disinilah yang mengatur hubungan antara sub sistem yang ada sehingga menjadi satu kesatuan.
  2. Yang terjadi di Depkes sampai ke bawah adalah semua unit bekerja mengumpulkan data, sementara Pusdatin juga mengumpulkan data, akhirnya pekerjaan pengumpulan data terjadi tumpang tindih, dan datanya tidak sama.
  3. Pusat Data Depkes RI akan membangun jaringan antar Ditjen, Pusat dan lain-lain di tingkat pusat, provinsi sampai ke kabupaten/ kota. Sedangkan antara unit di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota diserahkan ke Pemda masing-masing.
  4. Pemindahan data dari existing system terintegrasi dilakukan secara bertahap dimulai pada 2007 dan seterusnya.

Dan Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr.PH menegaskan bahwa :

  1. Sistem Informasi Kesehatan Daerah salah nama ? Semestinya Sistem Informasi Kesehatan Penduduk di daerah.
  2. Beliau juga mengatakan bahwa pembangunan SIKDA sebaiknya dimulai dari MINDSETnya, karena informasi adalah merupakan budaya, sedangkan budaya informasi dapat berubah jika MINDSET dapat berubah.

 

Dan Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD menegaskan bahwa :

  1. Berbagai macam proyek pengembangan sistem informasi sudah dilaksanakan oleh pusat sampai ke daerah namun kemudian terjadi kemacetan karena sulit dijalankan, atau ketika proyek masih berjalan sistem masih terpakai, namun ketika proyek selesai maka berhentilah sistem. Akhirnya berbagai batu nisan proyek dalam bentuk hardware dan software yang tidak terpakai.
  2. SIK tidak dapat dipisahkan dari Sistem Kesehatan dan lembaga-lembaga yang mempunyai  misi masing-masing.
  3. Diharapkan tidak membuat proyek sistem informasi kesehatan di provinsi atau kabupaten/ kota sebelum ada penataan sistem kesehatan wilayah/ daerah.
  4. Sistem informasi kesehatan sebaiknya dikelola oleh satu unit yang bersifat lintas bidang, supporting, dan didukng oleh tenaga fungsional.

 

Sesi II dimoderatori oleh Surahyo, B.Eng, M.Eng Sc dengan pembicara sebagai berikut :1.      Anis Fuad, DEA (Dosen SIMKES IKM FK UGM).Materi: Prospek dan strategi penerapan jabatan fungsional pranata komputer organisasi kesehatan. 2.      Djemingin Pamungkas, S.Pd, M.Kes Materi : Model Sistem Insentif bagi tenaga fungsional SIKDA3.      dr. Dwi Handono Sulistyo, M.Kes Materi : Peran Bapelkes dalam Persiapan SDM untuk SIKDA 

Anis Fuad, DEA menegaskan bahwa salah satu strategi peningkatan kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) untuk pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) adalah dengan pengangkatan pengelola menjadi fungsional pranata komputer sehingga tenaga pengelola tersebut merasa bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan Sistem Informasi Kesehatan Daerah itu adalah merupakan miliknya. Buka lagi berarti bahwa SIKDA itu hanya pekerjaan tambahan, melainkan SIKDA itu merupakan pekerjaan pokoknya karena mereka di berikan tunjangan untuk mengelola SIKDA. 

Dan Djemingin Pamungkas, S.Pd, M.Kes menegaskan bahwa insentif itu penting bagi tenaga fungsional SIKDA supaya dapat memenuhi ekonomi karyawan, mempertahankan tenaga kerja yang ada sehingga menjadi kerasan bekerja dan mencegah untuk pindah.Sedangkan dr. Dwi Handodo Sulistyo, M.Kes menegaskan bahwa :

  1. Untuk mengelola SIKDA belum ada tenaga yang khusus dan tupoksi tentang penelola SIKDA belum jelas sehingga bagaimana Bapelkes akan melatih tenaga tersebut.
  2. Bagaimana dapat melatih tenaga Sistem Informasi Kesehatan kalau Sistem Kesehatan Daerah belum ada.
  3. Peran Bapelkes sangat kecil karena struk organisasinya hanya sebagai UPT dan berada di luar lingkungan Dinas Kesehatan.

 

Sesi III dimoderatori oleh Luthfan Lazuardi, PhD dengan pembicara sebagai berikut :1.      dr. Azsri Krisnamurti (Kepala Dinas Kesehatan Kab. Wonosoba)Materi : Kesulitan dan Hambatan dalam tahap awal Pengembangan SIKDA.2.      dr. SururiMateri : Leadership dan Sustainability dalam SIKDA 

dr. Azsri Krisnamurti mengaskan bahwa ada dua factor penghambat dalam pengembangan SIKDA, yaitu :

  1. Non Teknis, yaitu berkaitan dengan proses lelang dengan system merit point, pasti dicurigai mengarah pada rekanan tertentu, adanya rekanan titipan, intervensi dan pengkondisian dari atasan.
  2. Teknis.

SDM belum siap, struktur organisasi belum ada, budaya pegawai bahwa tidak menggunakan komputerpun jalan, maintenance mahal, dan faktor geografis.

  1. Tetapi prinsip beliau adalah jangan sekali-kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negative atau pesimis ….. karena mereka akan mengambil sebahagian besar mimpi kta dan menjauhkan dari kita.

Sedangkan dr. Sururi menegaskan bahwa langkah strategis dalam pemanfaatan teknologi informasi adalah komitmen, membangun organisasi pembelajar, pembagian peran dalam/ luar organisasi, koordinasi lintas fungsi/ sector, advokasi stakeholder, dan konsistensi. 

TANGGAPAN SAYA TENTANG SEMUANYA : 

  1. Semestinya Pusdatin Depkes RI bertidak sebagai bank data Depkes dan memperbaiki manajemen SIK di lingkup pusat sehingga tidak lagi terjadi perlombaan pada tingkat direktorat untuk masing-masing membuat software kemudian dibebankan ke daerah, sehingga di daerah para pengelola program hanya mengurusi data saja. Bagaimana peningkatan derajat kesehatan ? Tugas Pusdatin mencegah sumber fragmentasi dari atas.
  2. Pada awalnya saya salut rencana Pusdatin akan membangun jaringan antar direktorat, pusat dll di tingkat pusat serta antar provinsi sampai kabupaten, tetapi saya akhirnya menjadi khawatir jaringan nantinya akan menjadi nisan peninggalan proyek jika seandainya di lingkup Depkes pusat manajemen SIK nya belum tertata dengan baik. 
  3. Untuk Prof . dr. Hari Kusnanto, Dr.PH bahwa untuk mengembangkan SIKDA harus dimulai dengan perubahan mindset, tetapi perubahan itu tidak semudah dengan yang diucapkan, melainkan mungkin tenaga harus dibekali dengan pengetahuan teknis tentang teknologi informasi sebagai bekal untuk meyakinkan semua pihak bahwa bukan sebatas cerita teori saja, tetapi mampu memperlihatkan buktinya, termasuk mahasiswa SIMKES UGM.
  4. Sedangkan untuk Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD tentang yang mana duluan SIKDA atau SKD. Menurut saya jika SIKDA dianggap sebagai support manajemen, maka jalankan dulu SIKDA kemudian susun regulasinya dalam bentuk SKD. Sebab untuk menyusun SKD tentu membutuhkan informasi, sedangkan jika tidak berdasarkan informasi lantas menyusun SKD, sama saja dengan mengarang SKD.
  5. Dan untuk Anis Fuad, DEA tentang fungsional pranata komputer. Menurut saya memang bagus, namun kendalanya adalah fungsional tersebut adalah fungsional non kesehatan sehingga jika akan diusulkan harus mendapat persetujuan dari BPS, kemudian dilanjutkan ke Badan Kepegawaian Daerah. Contohnya di Sulsel sejak tahun 2004 diusulkan ke BPS, sampai sekarang tidak ada realisasinya.
  6. Pak Djemingin mengatakan bahwa insentif dapat menigkatkan kinerja. Tetapi menurut saya dengan insentif memang baik, tetapi semakin memperburuk prilaku kita karena pasti akan terjadi penurunan kualitas kerja jika tidak ada insentif, artinya tidak merasa memiliki pekerjaan itu.
  7. Sedangkan untuk Bapelkes sampai saat ini belum mempunyai strategi tepat untuk meningkatkan SDM dalam rangka pengembangan SIKDA, karena masih bingung yang mana akan dilatih dan siapa yang akan melatih.
  8. Dan untuk dr. Azsri Krisnamurti dan dr. Sururi, bahwa kesulitan dan hambatan yang diutarakan itu dialami oleh semua unit kesehatan seluruh Indonesia. Namun saya sangat salut komitmennya untuk mengembangkan SIKDA dengan mengambil prinsip katak tuli. Selamat berjuang insya Allah berhasil.

 

 

 

Sudarianto………………………….

4 Responses to “SEMINAR SEHARI ASPEK ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH”


  1. 1 chandra Maret 26, 2007 pukul 6:37 am

    Seminar ini sangat menarik, seru, kiranya seminar seperti ini lebih banyak dibuat dilingkungan simkes dengan lebih banyak menghadirkan Dinas-Dinas Kesehatan Prov/Kab/Kota, Depkes RI biar mata mereka terbuka bahwa Sistem Informasi Kesehatan bukan hal yang sepele,,,,,, dan bukan hanya orang dari latar belakang pendidikan kesehatan yang dapat berpartisipasi disini, ,,,,,, MINDSET,,, semoga kita dapat merubahnya,,,

  2. 2 Iyas April 20, 2007 pukul 4:04 am

    sangat menarik sampai saat ini memang pengembangan sistem informasi kesehatan masih tumpang tindih, lagipula penerapan SIRS sepanjang pengamatan saya masih sangat minim dikarenakan banyak aspek yang salah satunya adalah sdm entah karena ga mau berubah atau kurang nyaman atau yang lain. mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang hehehehe
    jadi kapan yach sistem manajemen kesehatan kita bisa bagus …

  3. 3 ayah rafi Desember 11, 2007 pukul 4:27 am

    Kebetulan saya ikut seminar ini di Banda Aceh.
    Waktu itu narasumberny hampir sama. Pak Bambang dari Pusdatin, Pak Anis Fuad, dan kalau salah tidak salah ada juga Prof. Hari.
    Begini komentar saya.

    Carut marut dunia sistem informasi kesehatan bukan merupakan hal baru. Sejak dari jama dulu kala, kalau yang namanya data [kesehatan] itu tumpang tindih dan saling berbeda antar satu subdin, atau mungkin malah antar seksi [sampai ke level grass root di PKM].
    Yang menjadi inti masalah menurut hemat saya adalah “perbedaan data/informasi” ini. Inti masalah ini seharusnya menjadi esensi dan semangat pokok pencarian solusi yang terbaik.
    Saya tidak menentang sistem SIKDA dan SIKNAS, saya mendukung sepenuhnya. Tetapi yang saya ingin ditinjau ulang adalah kebijakan (proyek) pengadaan network (jaringan internet) sampai ke PKM dengan dana yang cukup besar (kata pak anis BTS nya saja 2 milyar), kalikan saja berapa BTS dalam 1 kabupaten/propinsi dan berapa BTS diseluruh Indonesia. Sungguh merupakan “Mega Proyek” yang maha dahsyat. Jangan sampai investasi ratusan milyar ini terbuang sia-sia karena kurangnya perencanaan. Apalagi kalau ini dijadikan sebagai satu-satunya strategi penyelesaian masalah (mohon maaf: begitu yang saya tangkap dari presentasi Pusdatin) mungkin bisa dibilang tidak mengena inti dari permasalahannya (data yang berbeda dan tumpang tindih).

    Menurut saya, salah satu solusi alternatif adalah dengan sistem pelaporan dan pendataan satu pintu. Ada formasi setingkat subdin di Dinkes Tk.I/II yang mengurus data secara holistik dan tentunya diharapkan nantinya menjadi pusat rujukan para pencari data (user).
    Karena menurut saya masyarakat kita (termasuk dunia kesehatan) saat ini sangat remeh dengan data, sehingga kepedulian akan data yang akurat dan komprehensif sangat rendah.

    PAD yang rendah, dana maintenace yang tinggi, SDM terampil yang kurang, dan besar kontribusi terhadap penyelesaian inti masalah hendaknya menjadi prioritas pertimbangan penentu kebijakan di Pusat.

    Walaupun prinsipnya “katak tuli” tapi jangan sampai kataknya juga “buta”, maka akan jadi berabe nantinya.

    SIKNAS dan SIKDA adalah hal vital yang memang sudah waktunya mendapatkan porsi yang lebih, tetapi tidak berlebihan. isu sustainabilitas adalah suatu harga mati, jangan sampai [proyek] ini dikebut dan dipaksakan ‘kejar tayang’ karena kepentingan mencari sensasi untuk menghadapi pemilu 2009. Seteleh itu bagaikan hidup segan mati tak mau [karena menteri yang baru pastinya akan mengusulkan mega proyek yang lain]..
    Mudah2an ketakutan saya ini hanya subyektif dan tidak berdasar.

    salam hangat,

    Hidayat
    BNA

    [chandra] say :

    Saya sangat setuju dengan pendapat Anda, mari kita kritisi bersama hajatan ini, moga-moga dengan sumbang saran kita kegiatan ini dapat berjalan dengan baik.
    Ada komentar lain ? Kami tunggu ya …

  4. 4 Endang Sabgiwinarti April 8, 2011 pukul 4:58 am

    saya menuyukai seminar anda,dengan seminar ini saya mendapat pengalaman yang lebih mendalam dari seminar SDM yang saya petik dari seminar anda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Prakata

simkes-kelas


Salam ....

Terima kasih atas kunjungan anda di Weblog Karya Siswa Sistem Informasi Kesehatan [SIMKES] IKM UGM Angkatan 2006. Saya mengundang pula kepada kawan-kawan kiranya dapat berpartisipasi menuangkan saran dan pemkirannya lewat Weblog ini.


Wasalam ....

Arsip Tulisan Kami

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 291,427 Kali di Baca

RSS DetikiNet

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: