Saat ini tengah berlangsung pelatihan pengelolaan Jaringan untuk persiapan SIKNAS ONLINE di Bandung. Disela-sela kegiatan tersebut marilah kita bersama berdiskusi tentang pengalaman kita di daerah masing-masing tentang kesiapan menghadapi SIKNAS ONLINE ini.
Besar harapan saya kiranya Hajatan besar ini dapat berjalan dengan baik syukur-syukur berhasil, karena timbul keraguraguan dalam hati saya Program ini mendapat banyak hambatan baik dari Pelaku SIKNAS ONLINE [para pengelola], Organisasi [dinkes] dan Teknologi itu sendiri apabila mereka tidak dengan sungguh-sungguh dan fokus menghadapi ini semua.
Anda mempunyai cerita, komentar, saran atau apa saja silahkan tinggalkan komentar dibawah ini. Lebih afdol lagi apabila ada teman-teman pengelola SINKAS ONLINE atau sekalian pelaku SIKNAS ONLINE di Pusdatin DEPKES RI yang mau bergabung.


Saya Fazarianti dari Dinkes Kota Padang..Setelah membaca tulisan saudara saya sangat setuju sekali dengan wacana kebutuhan dan kebingungan ..karena di daerah kami sendiri SIKNAS online ini belum berjalan sama sekali dan kami masih dalam tahap meraba. Kami sekarang sedang berada dalam pelatihan ini, semakin kami tahu tentang apa itu siknas online kami semakin bingung mengaplikasikannya dan makin trasa kalau daerah kami banyak kekurangan baik dari segi teknologi maupun dari segi kualitas SDM kesehatannya tentang ilmu jaringan ini..kami ingin sekali sharing dengan daerah lain yang sudah berjalan siknas onlinenya sebagai masukan dan tambahan bahan rujukan..terima kasih
[chandra] say :
Tulisan pak Chandra dan komentar bu Fazriati merupakan gambaran awal yang terjadi pada awal suatu proyek sistem informasi. Apalagi di sektor kesehatan, yang sebagaian besar usernya tidak memiliki pemahaman yang benar tentang sistem dan teknologi informasi.
Bagi yang lain, sharing tentang gambaran yang rinci mengenai SIKNAS online termasuk hasil pelatihan di Bandung saya kira akan memberikan manfaat lebih besar. Apakah ini hanya akan memberikan akses Internet ke setiap dinkes atau lebih dari itu. Kemudian, bagaimana kaitan SIKNAS online dengan mekanisme sharing data kesehatan secara otomatis. Bagaimana arsitektur dan model teknisnya saya kira perlu dijabarkan lagi. Bisa menceritakan lagi pak Chandra? Semoga dari Pusdatin juga membaca posting ini agar bisa komentar juga.
Salam,
anis
[chandra] say :
Menanggapi kebingungan. Hal tersebut memang benar, kami sebagai pelakupun demikian, menurut pendapat saya SIKNAS/SIKDA masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar stakeholder dimana SIKDA dikembangkan. Sinkronisasi belum bisa berjalan, ini tampak dari setiap program yang dijabarkan oleh setiap dirjen biasanya disertai dengan aplikasinya, dan repotnya aplikasi dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak bersifat opensource. Kondisi ini terduplikasi ke setiap level dari Dinkes Propinsi demikian juga dengan kabupaten/kota. Pemahaman SDM Kesehatan terhadap penggunaan TI pun masih minor. SIKNAS/SIKDA yang oleh Pusdatin telah dibangun ini akan bermanfaat bila semua SDM Kesehatan ‘melek TI’, untuk memulainya memang harus dari top manajer, yang memiliki kewenangan untuk memerintah, jika dilakukan dari midle atau low manajer hal ini juga bisa tetapi hanya pada sebagian komunitas yang sadar bahwa TI penting sebagai penunjang profesi kesehatan.
[chandra] say :
Pak Candra saya Baru Baca tentang Kebingungan tentang SIKNAS ONLINE, tanggapan saya memang pelatihan di bandung itu hanya memberikan kulitnya saja, dalam memahami tentang jaringan,dan sebagainya tidak cukup hanya diberikan dalam waktu 3 hari lebih-lebih materinya hanya teori saja, tanpa ada prakteknya.
ada saran saya berkenaan dengan SIKNAS ONLINE :
1. Bagi Pengelola SIKNAS ONLINE di Tingkat Provinsi agar mengkoordinir,Menfasilitasi kesiapan SDM di Masing Kabupaten/Kota.Sebagai contoh di Provinsi Gorontalo Saya adakan Pelatihan Dasar-Dasar Pembuatan Website bagi petugas SIK kabupaten kota, materinya adalah dasar2 jaringan, dan dasar2 HTML, untuk dasar2 HTML prakteknya masing2 masing peserta membuat acount blog di wordpress, dan langsung mempraktekkan materi tersebut.
2. Petugas Pengelola SIK Provinsi Menganalisis kebutuhan Petugas Kabupaten Kota, dari hasil analisis tersebut apa2 yang kurang maka petugas provinsilah yang memfasilitasi kekurangan tersebut dapat ditutupi,analisis yang dimaksud lebih di tekankan pada kesiapan SDM.
Kemarin orang dari Pusdatin sempat ngomong dengan saya, mereka hanya bisa menfasilitasi Jaringan, untuk pengembangan SDM diharapkan petugas Provinsi yang proaktif,sejalan juga dengan penjelasan dari pusdatin waktu pertemuan SIMPUS di sby bahwa untuk pengembangan SDM diharapkan dari Provinsi yang pro aktif
[chandra] menambahkan sedikit :
malah saya baru tahu pada saat posting komen ini… di Kab. KUningan Jabar malah tidak terdengar sama sekali…sy tahu pun dari pengunjung yang datang ke blog saya…
andaikan pejabat-pejabat di lingkungan kab/kota bisa tau mana yang harus menangani SIKNAS,pasti bisa berjalan 100% sesuai harapan kita semua,saya punya pendapat seperti ini karena kemarin dari pengadaan CPNS tahun 2005 s/d 2007 banyak yang disiplin ilmunya dari IT, sayangnya kebanyaan dari mereka tidak dapat kesempatan untuk membuktikan kalau mereka mampu,kebanyakkan dari mereka menjadi staf adminstrasi yang handal.moga2 saran dari kami bisa dipertimbangkan.
[Chandra] say :
Selamat dan salam sejahtera saya bagi seluruh bloger yang aktif disini. saya mencoba memahami seluruh diskusi posting ini dari awal sampai yang terakhir, hormat dan salut buat teman-2 yang sudah urun rembuk serta menceritakan pengalaman tentang siknas-online, saya kira depkes dalam hal ini pusdatin dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dan bila mungkin memberikan penjelasan tentang perkembangan siknas-online dari waktu ke waktu. Mungkin saya sedikit menghimbau kepada teman-teman petugas penanggung jawab siknas-online yang sudah ditunjuk 2 orang di tingkat kabupaten/kotamadya serta 2 orang juga di tingkat provinsi seluruh indonesia yang notabene sudah dibekali keterampilan dan diberi hardware (beserta koneksi internetnya) dapat memanfaatkan semaksimal mungkin, minimal bisa brosing atau ikut diskusi di blog ini. Viva semua teman-teman yang telah memberikan masukan, semoga bermanfaat bagi operator-operator siknas online di seluruh indonesia.(pengelola siknas online dinkes dki jakarta)
Saudara-saudaraku,
Perkenalkan saya, kalau anda mau curhat SIK,SIMPUS atau apapun namanya, bergabung dengan saya, siapa tahu ada yang bermanfaat dari saya.
Sampai ketemu
Maaf, masukan untuk pengelola SIKNAS ONLINE di puadatin, mohon di monitoring sampai tingkat kabupaten….jangan mandeg sampai propinsi saja, karena kemungkinan besar kendala di tingkat kabupaen >>>> (baca lebih besar) dari pada di propinsi.
dan tanyakan dengan angket (list indepth atau obeservasi) apa saja ang menjadi kendala di lapangan, dan segera ditindaklanjuti….bila menunggu bola dari bawah, sulit kayaknya karena sebagian besar saat ini SIKNAS di kabupaten tidak dapat OL…..maaf, bila menyinggung bapak/ibu di pusdatin, saya hanya ingin agar SIKNAS ini benar2 sejalur dengan tujuannya…..trims
Ikutan Memberi Komentar. SIKNAS ONLINE ide awalnya cukup bagus untuk mempercepat proses penerimaan data dari tingkat kabupaten dan propinsi. Tetapi setelah direalisasikan dalam bentuk sebuah aplikasi ternyata sulit untuk mengisi data di SIKNAS karena :
1. Data Dasar semua kegiatan SIK ada di tingkat puskesmas
2. Aplikasi di tingkat puskesmas belum ada.
3. tenaga yang ada dipuskesmas hampir sebagian besar (80%) skillnya kurang terhadap IT.
4. Kegiatan dipuskesmas sudah overload dibandingkan dengan jumlah tenaga yang ada di puskesmas.
5. Dinas kabupaten dan propinsi mendapatkan laporan sebagian besar dari puskesmas.
kesimpulannya adalah PUSDATIN harus merencanakan dan membuat konsep dan standarisasi untuk aplikasi dipuskesmas.
Kemudian pembuatan Aplikasinya sendiri diserahkan kemasing-masing daerah. Yang Mengerjakan aplikasinya adalah sebaiknya adalah orang-orang local didaerahnya sendiri-sendiri sehingga mudah untuk pengembangana dan perawatan sistem aplikasinya.
Menurut pendapat saya ada 4 sistem besar yang harus dimiliki oleh dinas kesehatan yaitu :
1. SIK PUSKESMAS -> sebaiknya dibuat oleh orang local
2. SIK KABUPATEN -> Aplikasi SIK dibuat untuk merekap semua laporan yang dihasilkan OLEH Aplikasi SIK PUSKESMAS (sebaiknya dibuat oleh orang local)
3. SIK PROPINSI -> Aplikasi SIK yg dibuat untuk merekap semua laporan yang dihasilkan oleh Aplikasi SIK Kabupaten (sebaiknya dibuat oleh orang local)
4. SIKNAS ONLINE -> Aplikasi SIK yang dibuat untuk merekap semua laporan SIK dari Propinsi (sebaiknya dibuat oleh PUSAT).
Kunci dasar keberhasilan SIKONLINE adalah di SIK PUSKESMAS.
DI BALI SIK PUSKESMAS dan SIK KABUPATEN SUDAH ada. Awal Bulan Desember 2008 akan diuji coba pengiriman data dari tingkat puskesmas ke tingkat kabupaten dengan menggunakan Sistem SIK Puskesmas dan SIK KABUPATEN. Kami Berharap uji coba tersebut bisa berhasil dan berjalan dengan lancar, sehingga bisa menjadi percontohan untuk propinsi lain.
terima kasih,
Salam
Saya setuju dengan pendapat anda bahwa saat ini kuncinya sebenarnya membangun jejaring dengan pondasi recording data di puskesmas.
Namun permasalahannya saat ini, apa seluruh daerah berfikir sampai disana? tentunya belum, pendapat ngarang saya sebaiknya Pusdatin dengan jaringan onlinennya memberikan suatu draft pengembangan sik yg dipaku secara nasional dan tentunya dengan melihat kebutuhan dari daerah tidak di pukul rata.
Disi peran pihak akademis, depkes dan dinas kesehatan sebaiknya lebih besar dengan menyampingkan kepentingan oranganisasi.
Saya rasa upaya dinas kesehatan untuk mengembangkan masing2 siknya tanpa diberi suatu rules tertentu akan memberikan sumbangsih kesulitan integrasi data antara daerah dan pusat lagi.
demikian.
Sebagai suatu inovasi, jaringan komunikasi yang dirintis oleh Pusdatin patut dihargai. Tetapi, memang harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Saya setuju, bahwa sumber utama adalah data kesehatan terhadap di fasilitas kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit serta data dari populasi (survei, sensus, registrasi vital badan kependudukan dll) serta lintas sektor. Dinas kesehatan kabupaten/kota memang bertanggungjawab mengompilasikan data dari semua sumber tersebut. Kompilasi data ini diperlukan untuk dapat mengambil tindakan/keputusan segera di daerah. Tingkat yang lebih tinggi memang memerlukan ringkasan data dari kabupaten, yang masih menjadi pertanyaan adalah bagaimana mekanismenya? Apakah harus entry ulang menggunakan aplikasi di SIKNAS online tersebut?
Menurut saya, sebaiknya pusat membuat menu data yg perlu dishare apa saja…buat standarnya (dalam format yang otomatis bisa tersimpan ke dalam database), bisa online atau offline, yang kemudian dapat dikirimkan menggunakan jalur SIKNAS Online.
Di Malaysia, Depkes mereka membuat inovasi yang menarik yaitu Connect-athon. Idenya adalah untuk mengintegrasikan berbagai pertukaran data dari berbagai software rumah sakit. Pada acara tersebut, depkes membawa server mereka, menjelaskan struktur database di depkes, kemudian para vendor diberi waktu untuk bisa menshare data di rumah sakit secara otomatis masuk ke dalam server tersebut. Software bisa berbeda-beda tetapi data bisa otomatis masuk ke server. Rumah sakit tidak perlu memasukkan ulang data rekapan ke aplikasi di depkes. Saya kira perlu ada perubahan besar di Yanmed yang juga masih mengumpulkan laporan dari seribuan rumah sakit di Indonesia yang setiap tiga bulan data RLnya dikirimkan ke pusat dan mungkin sebagian besar masih paper dan harus dientry secara manual di Kuningan sana….
Tambahan, saya usul, mengapa tidak melakukan evaluasi pemanfaatan SIKNAS online? Kuesioner tinggal disesuaikan, mau pake teori TAM, DeLone McLean, End User Computing atau apapun disesuaikan aja…Penggunanya khan banyak…bisa jadi tesis kedua he..he..he… (atau disertasi sekalian biar mantep). Ada yang mau?