Arsip untuk Maret, 2007

SEMINAR SEHARI ASPEK ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH

Minat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan bekerjasama dengan konsentrasi Sistem Informasi Manajemen Kesehatan mengadakan seminar sehari tentang Aspek Organisasi dan Sumber Daya Manusia dalam Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah pada hari Sabtu 17 Maret 2007 di gedung Ismangoen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada: Prof. Dr. Hardyanto Soebono, SpKK. 

Seminar itu  terdiri dari 3 (tiga) sesi, seperti berikut : 

Sesi I dimoderatori oleh dr Riris Andono Ahmad, MPH dengan pembicara sebagai berikut :1.      DR. Bambang Hartono, SKM, M.Sc (Kepala Pusat Data dan Informasi Kesehatan Departemen Kesehatan RI).Materi: Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) dan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).2.      Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr.PH (Direktur Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM).Materi : Benarkah Pengembangan SIKDA saat ini lebih berorientasi teknis dan pragmatis semata ?3.      Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD (Ketua Minat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan).Materi: Aspek Organisasi dalam Pegembangan SIKDA : Struktural, fungsional atau bentuk ? 

DR. Bambang Hartono, SKM, M.Sc menekankan bahwa :

  1. Dalam sistem kesehatan adalah terdiri dari beberapa sub sistem, antara lain pembiayaan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, SDM kesehatan, upaya kesehatan, obat / perbekalan kesehatan dan manajemen kesehatan. Menurut beliau diantara sub sistem tersebut, manajemen kesehatanlah yang harus dibenahi sekarang karena disinilah yang mengatur hubungan antara sub sistem yang ada sehingga menjadi satu kesatuan.
  2. Yang terjadi di Depkes sampai ke bawah adalah semua unit bekerja mengumpulkan data, sementara Pusdatin juga mengumpulkan data, akhirnya pekerjaan pengumpulan data terjadi tumpang tindih, dan datanya tidak sama.
  3. Pusat Data Depkes RI akan membangun jaringan antar Ditjen, Pusat dan lain-lain di tingkat pusat, provinsi sampai ke kabupaten/ kota. Sedangkan antara unit di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota diserahkan ke Pemda masing-masing.
  4. Pemindahan data dari existing system terintegrasi dilakukan secara bertahap dimulai pada 2007 dan seterusnya.

Dan Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr.PH menegaskan bahwa :

  1. Sistem Informasi Kesehatan Daerah salah nama ? Semestinya Sistem Informasi Kesehatan Penduduk di daerah.
  2. Beliau juga mengatakan bahwa pembangunan SIKDA sebaiknya dimulai dari MINDSETnya, karena informasi adalah merupakan budaya, sedangkan budaya informasi dapat berubah jika MINDSET dapat berubah.

 

Dan Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD menegaskan bahwa :

  1. Berbagai macam proyek pengembangan sistem informasi sudah dilaksanakan oleh pusat sampai ke daerah namun kemudian terjadi kemacetan karena sulit dijalankan, atau ketika proyek masih berjalan sistem masih terpakai, namun ketika proyek selesai maka berhentilah sistem. Akhirnya berbagai batu nisan proyek dalam bentuk hardware dan software yang tidak terpakai.
  2. SIK tidak dapat dipisahkan dari Sistem Kesehatan dan lembaga-lembaga yang mempunyai  misi masing-masing.
  3. Diharapkan tidak membuat proyek sistem informasi kesehatan di provinsi atau kabupaten/ kota sebelum ada penataan sistem kesehatan wilayah/ daerah.
  4. Sistem informasi kesehatan sebaiknya dikelola oleh satu unit yang bersifat lintas bidang, supporting, dan didukng oleh tenaga fungsional.

 

Sesi II dimoderatori oleh Surahyo, B.Eng, M.Eng Sc dengan pembicara sebagai berikut :1.      Anis Fuad, DEA (Dosen SIMKES IKM FK UGM).Materi: Prospek dan strategi penerapan jabatan fungsional pranata komputer organisasi kesehatan. 2.      Djemingin Pamungkas, S.Pd, M.Kes Materi : Model Sistem Insentif bagi tenaga fungsional SIKDA3.      dr. Dwi Handono Sulistyo, M.Kes Materi : Peran Bapelkes dalam Persiapan SDM untuk SIKDA 

Anis Fuad, DEA menegaskan bahwa salah satu strategi peningkatan kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) untuk pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) adalah dengan pengangkatan pengelola menjadi fungsional pranata komputer sehingga tenaga pengelola tersebut merasa bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan Sistem Informasi Kesehatan Daerah itu adalah merupakan miliknya. Buka lagi berarti bahwa SIKDA itu hanya pekerjaan tambahan, melainkan SIKDA itu merupakan pekerjaan pokoknya karena mereka di berikan tunjangan untuk mengelola SIKDA. 

Dan Djemingin Pamungkas, S.Pd, M.Kes menegaskan bahwa insentif itu penting bagi tenaga fungsional SIKDA supaya dapat memenuhi ekonomi karyawan, mempertahankan tenaga kerja yang ada sehingga menjadi kerasan bekerja dan mencegah untuk pindah.Sedangkan dr. Dwi Handodo Sulistyo, M.Kes menegaskan bahwa :

  1. Untuk mengelola SIKDA belum ada tenaga yang khusus dan tupoksi tentang penelola SIKDA belum jelas sehingga bagaimana Bapelkes akan melatih tenaga tersebut.
  2. Bagaimana dapat melatih tenaga Sistem Informasi Kesehatan kalau Sistem Kesehatan Daerah belum ada.
  3. Peran Bapelkes sangat kecil karena struk organisasinya hanya sebagai UPT dan berada di luar lingkungan Dinas Kesehatan.

 

Sesi III dimoderatori oleh Luthfan Lazuardi, PhD dengan pembicara sebagai berikut :1.      dr. Azsri Krisnamurti (Kepala Dinas Kesehatan Kab. Wonosoba)Materi : Kesulitan dan Hambatan dalam tahap awal Pengembangan SIKDA.2.      dr. SururiMateri : Leadership dan Sustainability dalam SIKDA 

dr. Azsri Krisnamurti mengaskan bahwa ada dua factor penghambat dalam pengembangan SIKDA, yaitu :

  1. Non Teknis, yaitu berkaitan dengan proses lelang dengan system merit point, pasti dicurigai mengarah pada rekanan tertentu, adanya rekanan titipan, intervensi dan pengkondisian dari atasan.
  2. Teknis.

SDM belum siap, struktur organisasi belum ada, budaya pegawai bahwa tidak menggunakan komputerpun jalan, maintenance mahal, dan faktor geografis.

  1. Tetapi prinsip beliau adalah jangan sekali-kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negative atau pesimis ….. karena mereka akan mengambil sebahagian besar mimpi kta dan menjauhkan dari kita.

Sedangkan dr. Sururi menegaskan bahwa langkah strategis dalam pemanfaatan teknologi informasi adalah komitmen, membangun organisasi pembelajar, pembagian peran dalam/ luar organisasi, koordinasi lintas fungsi/ sector, advokasi stakeholder, dan konsistensi. 

TANGGAPAN SAYA TENTANG SEMUANYA : 

  1. Semestinya Pusdatin Depkes RI bertidak sebagai bank data Depkes dan memperbaiki manajemen SIK di lingkup pusat sehingga tidak lagi terjadi perlombaan pada tingkat direktorat untuk masing-masing membuat software kemudian dibebankan ke daerah, sehingga di daerah para pengelola program hanya mengurusi data saja. Bagaimana peningkatan derajat kesehatan ? Tugas Pusdatin mencegah sumber fragmentasi dari atas.
  2. Pada awalnya saya salut rencana Pusdatin akan membangun jaringan antar direktorat, pusat dll di tingkat pusat serta antar provinsi sampai kabupaten, tetapi saya akhirnya menjadi khawatir jaringan nantinya akan menjadi nisan peninggalan proyek jika seandainya di lingkup Depkes pusat manajemen SIK nya belum tertata dengan baik. 
  3. Untuk Prof . dr. Hari Kusnanto, Dr.PH bahwa untuk mengembangkan SIKDA harus dimulai dengan perubahan mindset, tetapi perubahan itu tidak semudah dengan yang diucapkan, melainkan mungkin tenaga harus dibekali dengan pengetahuan teknis tentang teknologi informasi sebagai bekal untuk meyakinkan semua pihak bahwa bukan sebatas cerita teori saja, tetapi mampu memperlihatkan buktinya, termasuk mahasiswa SIMKES UGM.
  4. Sedangkan untuk Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD tentang yang mana duluan SIKDA atau SKD. Menurut saya jika SIKDA dianggap sebagai support manajemen, maka jalankan dulu SIKDA kemudian susun regulasinya dalam bentuk SKD. Sebab untuk menyusun SKD tentu membutuhkan informasi, sedangkan jika tidak berdasarkan informasi lantas menyusun SKD, sama saja dengan mengarang SKD.
  5. Dan untuk Anis Fuad, DEA tentang fungsional pranata komputer. Menurut saya memang bagus, namun kendalanya adalah fungsional tersebut adalah fungsional non kesehatan sehingga jika akan diusulkan harus mendapat persetujuan dari BPS, kemudian dilanjutkan ke Badan Kepegawaian Daerah. Contohnya di Sulsel sejak tahun 2004 diusulkan ke BPS, sampai sekarang tidak ada realisasinya.
  6. Pak Djemingin mengatakan bahwa insentif dapat menigkatkan kinerja. Tetapi menurut saya dengan insentif memang baik, tetapi semakin memperburuk prilaku kita karena pasti akan terjadi penurunan kualitas kerja jika tidak ada insentif, artinya tidak merasa memiliki pekerjaan itu.
  7. Sedangkan untuk Bapelkes sampai saat ini belum mempunyai strategi tepat untuk meningkatkan SDM dalam rangka pengembangan SIKDA, karena masih bingung yang mana akan dilatih dan siapa yang akan melatih.
  8. Dan untuk dr. Azsri Krisnamurti dan dr. Sururi, bahwa kesulitan dan hambatan yang diutarakan itu dialami oleh semua unit kesehatan seluruh Indonesia. Namun saya sangat salut komitmennya untuk mengembangkan SIKDA dengan mengambil prinsip katak tuli. Selamat berjuang insya Allah berhasil.

 

 

 

Sudarianto………………………….

Studium Generale

Internasional Master Program in Public Health (IMP-PH)akan menyelenggarakan Studium Generale dengan topik : Sistem Pelayanan Kesehatan Jepang Dan Kunci Sukses Jepang Dalam Kesehatan Masyarakat oleh Prof. Yoshihisa Watanabe (Tokai University Japan) pada

Hari/Tanggal : Kamis, 15 Maret 2007

Pukul : 13.00 – 15.00 WIB

Tempat : Ruang Theater Perpustakaan Lt. 2 FK UGM

Bagi mahasiswa S2 IKM UGM yang berminat silahkan mendaftar di sekretariat IMP-PH (atas kantin) dengan sdr. Arman/Dian.

Tempat terbatas bagi 60 mahasiswa pendaftar pertama. GRATIS

Nia

Seminar & Tutorial VoIP di Jogjakarta dan Makasar

Tema :
Solusi Jitu Menekan Biaya Komunikasi
- VoIP, Telepon Tanpa Pulsa!
- Fixed Mobile Communication

Workshop ini akan mendemonstrasikan teknik dan trik yang dapat dilakukan
oleh rakyat Indonesia untuk membuat sendiri infrastruktur telekomunikasinya

Pembicara:
Onno W Purbo, PhD.
Budi Harjono (GM Marketing & Product Business Sulution, XL)

Fasilitas Peserta :

  • Buku VoIP:Cikal Bakal “Telkom Rakyat”.
  • Panduan Lengkap Setting VoIP karya Onno W Purbo seharga Rp 69.000.
  • Sertifikat.
  • Lunch

JOGJAKARTA
Kamis, 8 Maret 2007, Pk 10.00 s/d 15.00 WIB
Jogjakarta Expo Center

Umum Rp 89.000,-
Pelajar/Mahasiswa/ Guru/Dosen Rp 69.000,-
Pelanggan InfoKomputer Rp 69.000,-

Informasi pendaftaran :
Kunthi 0274 521131
Wahyu 0852.2886.7077

Reply From : simkes_ugm@yahoogroups.com (Harmy Praseryo)
Chandra

Evaluasi Sistem Informasi Kesehatan: pertanyaan ke-4

Evaluasi Sistem Informasi Kesehatan, pertanyaan ke-4 :

Apakah sistem yang baru lebih baik dengan sistem sebelumnya?

Implementasi sistem komputer memerlukan biaya untuk pengadaan hardware, software, dan pelatihan pengguna yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi petugas dalam proses pengolahan data,khususnya dari data–data yang telah terkumpul.

Evaluator harus mengevaluasi seberapa besar sistem dapat menghemat waktu pengumpulan dan pengolahan data. Jika tidak, proses entri dan analisis data yang dibuat oleh komputer mungkin menyita waktu dan biaya yang mahal yang sebenarnya untuk keperluan lain (misalnya, bagaimana kecukupan waktu dan biaya untuk pengaturan pengadaan, pemantauan hal-hal penting lain, peningkatan kepuasan pasien atau dokter, juga bagaimana dengan upaya meningkatkan mutu perawatan kesehatan)?

Contoh kasus : penerapan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)

Pertanyaan evaluasi sistem informasi SIMPUS adalah, apakah dengan SIMPUS dapat memberi manfaat terhadap peningkatan efisiensi sumber daya?.

Unit analisis evaluasi adalah user dan organisasi (termasuk didalamnya pengambil kebijakan/ top level manajemen)

Daftar pertanyaan yang bisa dipakai misalnya :
a.Seberapa besar efisiensi yang dihasilkan dari penerapan SIMPUS?
b.Apakah dengan sistem LAN yang baru, proses entri dan analisis data lebih cepat ?

Untuk menjawab pertanyaan pertama yang akan menghitung tingkat efisiensi sumber daya, dilakukan dengan metode Cost Benefit Analysis (CBA). Metode ini membandingkan antara investasi dana yang ditanamkan (anggaran yang sudah dikeluarkan) untuk sistem komputerisasi dengan keuntungan yang diharapkan.

Sedangkan untuk mengevaluasi kecepatan sistem dalam entri dan pengolahan data dapat dilakukan penelitian dengan pendekatan metode kualitatif melalui observasi atau pengamatan langsung saat berlangsung proses entri dan pengolahan data dengan menggunakan komputer. Selain observasi, dapat juga dilakukan wawancara dengan user (pengguna sistem).

Referensi :

Anderson, J. G., Aydin, C.E., Jay, S.J,1994 Evaluating Health Care Information systems : Methods and applications, Sage Publications, United States of America.

<Moch. Adib,SIMKES06>

Seminar Peran Sistem Informasi Kesehatan dalam Desa Siaga

Pada tanggal 14 Februari 2007, Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES) mengadakan Seminar Peran Sistem Informasi Kesehatan dalam Desa Siaga, yang bertempat di Auditorium II FK UGM dan dikuti oleh kurang lebih 90 peserta yang berasal dari beberapa instansi seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas,Akper, Poltekes di Yogya dan Jateng, serta mahasiswa Simkes dan IKM. Seminar ini diadakan dalam rangka mendukung visi Departemen Kesehatan yaitu “ Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat” dengan misi ”Membuat rakyat sehat”, serta dengan strategi “Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat”. Dalam seminar ini dipaparkan beberapa topik mengenai peran informasi sebagai suatu unsur yang penting dalam pemberdayaan potensi-potensi yang ada di masyarakat khususnya dalam hal pelayanan kesehatan. Adapun topik-topik tersebut adalah sebagai berikut:

• Kebutuhan informasi kesehatan bagi keluarga sebagai “primary producers of health”, oleh Dra. Budi Wahyuni, MM., MA
• Pemanfaatan informasi dalam pelayanan kesehatan di komunitas: posyandu, pos, kesehatan desa dan polindes, oleh drg. Senik Windyati.
• Sistem informasi dalam pelayanan kesehatan primer dan integrasi vertikal pelayanan di masyarakat, puskesmas dan rumah sakit, oleh Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH
• Sistem informasi untuk mendukung program kesehatan masyarakat di tingkat desa, oleh dr. Kristiani, SU
• Teknologi informasi untuk mengoptimalkan program desa siaga, oleh Anis Fuad, DEA
• Radio Komunitas Wiladeg (Sukoco-Kepala Desa Wiladeg, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul)
• Pengalaman Hj. Supadmi (Kasi KIA Dinkes Kab. Bantul)

Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi, dimana sesi 1 dengan moderator Bapak Arie Sujito, S.Sos, Msi, Sesi 2 dimoderatori oleh Bapak Haryanto, SKM, Mkes, dan sesi terkahir oleh Bapak Anis Fuad, DEA.

Berikut sedikit mengenai apa yang disampaikan oleh pembicara dalam seminar tersebut:

Sesi pertama diawali oleh pemaparan Ibu Wahyuni, dimana awal prsentasinya menceritakan mengenai kasus permasalahan kesehatan yaitu kasus anak yang menderita gizi buruk dan cerita suatu keluarga beberapa anggotanya mengalami kelumpuhan. Kedua hal di atas merupakan salah satu contoh dimana dalam perkembangan teknologi yang cukup pesat saat ini masih terdapat kurangnya informasi untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan. Lebih lanjut Ibu Wahyuni mengatakan bahwa kondisi tersebut mengingatkan pada bagaimana pemerintah (Departemen Kesehatan) bertanggung jawab atas terpenuhinya informasi kesehatan bagi keluarga.
Berkenaan dengan terpenuhinya informasi kesehatan bagi keluarga, maka informasi dasar yang harus dimengerti adalah mengenai kesehatan reproduksi dan seksual, yang didukung dengan adanya PHBS untuk meningkatkan derajad kesehatan.
Sehingga pada pokoknya adalah informasi kesehatan dapat di kelola sedemikian rupa sehingga dapat didistribusikan hingga tingkat keluarga agar dapat diterima, dijalankan dan dijadikan sebagai dasar.

Ibu Senik menyampaikan mengenai bagaimana pemanfaatan sistem infomasi dalam pelayanan kesehatan. Bertumpu pada puskesmas yang merupakan pelayanan klinis dan pelayanan kesehatan masyarakat dalam bentuk manajemen kesehatan wilayah. Dimana dalam pelaksanaannya puskesmas didukung dengan adanya beberapa komunitas-komunitas pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat, seperti Posyandu, Poskesdes dan Polindes. Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ada di puskesmas dan komunitas tersebut, informasi merupakan unsur yang sangat penting sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan evaluasi. Adanya informasi yang memadai juga akan membentuk suatu sistem kewaspadaan dini terhadap permasalahan-permasalahan kesehatan. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan sistem informasi untuk penanggulangan masalah kesehatan dengan aplikasi Sistem informasi Geografis dalam monitoring dan pengelolaan program pelayanan kesehatan masyarakat, yang memanfaatkan teknologi informasi. Dengan adanya aplikasi ini akan mempermudah dalam pemantauan permasalahan kesehatan di suatu wilayah.

Pada penutup sesi pertama ini Pak Hari menyampaikan mengenai sistem informasi kesehatan primer. Bahwa desa siaga bukanlah sekedar suatu hal yang harus berbentuk gedung atau baliho, tetapi lebih kepada penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya pomotif, preventif dan kuratif terhadap permasalahan kesehatan. Dapat dikatakan bahwa desa siaga merupakan jaringan pengetahuan dan kewaskitaan. Dimana dalam kesiagaan diperlukan komunikasi informasi dan pengetahuan. Selain itu perlunya sumberdaya yang dapat mengaitkan keluarga, petugas kesehatan dan sarana kesehatan.
Contohnya adalah pelajaran dari Purworejo, bahwa desa siaga merupakan desa yang terus belajar bersama meningkatkan hidup, desa siaga merupakan upaya untuk semakin sejahtera dan desa siaga difasilitasi oleh pemerintah dan swasta agar dapat terus memberdyakan diri.

Beranjak pada sesi 2, di buka denga presentasi Ibu Kristiani mengenai sistem informasi untuk mendukung program-program kesehatan masyarakat. Pengelolaan data di puskesmas berasal dari unsur-unsur manajemen puskesmas, kegiatan program pokok dan pengembangan, kegiatan luar gedung, laporan obat, masyarakat dan lintas sektoral. Manajenen data dan penggunaan informasi di pusksemas, meliputi data input dari berbagai unsur-unsur dan instrumental input berupa form, hardware dan software. Selanjutnya akan dilakukan manajemen data berupa entri, rekapitulasi, analisis, interpretasi, penyajiaan serta penyebarluasan data. Setelah dilakukan manajemen data maka akan menjadi hasil analisis berupa informasi harian, informasi bulanan dan informasi tahunan. Outputnya beupa laporan yang akan dilporkan ke Dinas Kesehatan, yaitu laporan puskesmas, SP3 dan program. Adapun data yang ada juga akan digunakan sebagai dasar penyusunan POA/PTP, evaluasi, pedoman, dll.

Selanjutnya Bapak Anis Fuad menyampaikan mengenai peran teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukung program desa siaga. Awal pemaparan disampaikan bahwa desa siaga adalah desa yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Sedangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu perangkat keras dan lunak serta infrastruktur yang dapat mengolah data menjadi suatu informasi dan berkembang dengan cepat, akan tetapi tidak semua desa dapat mengaksesnya. Sehingga perlu adanya dukungan dalam hal inovasi TIK, agar kemampuan dan sumber daya yang ada di masyarakat dapat digunakan untuk mencegah dan mengatasi permasalahan kesehatan. Bahwa dengan inovasi TIK, maka terdapat kemapuan mendeteksi masalah kesehatan, membuat pelaporan dan memanjemen informasi kesehatan.Bentuk dari inovasi TIK tersebut antara lain pemanfaatan sms untuk kepatuhan minum obat Tb dan melaporkan ibu hamil beresiko tinggi.

Pada sesi terkahir disampaikan pengalaman Bapak Sukoco (Kepala Desa Wiladeg Karangmojo Gunungkidul) mengenai adanya radio komunitas Wiladeg yang digunakan sebagai sarana penyebaran informasi dan hiburan bagi masyarakat sekitar, guna lebih mengedepankan potensi setempat. Pengalaman berikutnya disampaikan oleh Ibu Hj. Supadmi (Kasi KIA Dinkes Kab Bantul) mengenai sistem informasi dalam desa siaga, khususnya penggunaan sistem informasi dalam hal kesehatan ibu dan anak.

Dalam seminar ini juga dilakukan demo software yang merupakan salah satu bentuk inovasi teknologi informasi dan komunikasi, yaitu sms pelaporan ibu hamil resiko tinggi. Dalam sistem pelaporan melalui sms ini terdapat nama ibu hamil dan kode wilayah tinggalnya, dengan hasil tersebut maka akan dibuat pelaporan untuk pemantauan.

Nia

Seminar sehari tentang aspek organisasi dan SDM dalam pengembangan SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Daerah)

Pengantar

Pengembangan SIKDA (sistem informasi kesehatan daerah) seringkali diasumsikan dengan komputerisasi. Padahal, komputer tanpa manusia dan perangkat manajemen yang mengatur penggunaannya hanyalah barang mati biasa. Aspek organisasi dan SDM dalam pengembangan SIKDA masih diliputi ketidakjelasan. Berbagai pertanyaan yang timbul diantaranya adalah, dimanakah struktur yang mengelola SIK di dinkes propinsi/kabupaten/kota? Apakah merupakan unit fungsional, struktural atau pelaksana teknis daerah? Bagaimanakah implementasi penerapan berbagai jabatan fungsional yang terkait dengan SIKDA seperti pranata komputer, statistisi, rekam medis maupun arsiparis? Bagaimana sistem insentif yang sesuai sebagai pengungkit kemajuan program SIKDA? Berbagai pertanyaan tersebut akan dibahas dalam seminar sehari yang bertujuan untuk merumuskan konsep organisasional dan SDM dalam pengembangan SIKDA.

Pembicara

Peserta
- kepala dinas kesehatan propinsi/kabupaten/kota,
- pengelola program,
- data dan informasi di dinas kesehatan propinsi/kabupaten/kota,
- anggota Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan,
- pimpinan KPDE (kantor pengelola data elektronik) tingkat propinsi/kabupaten/kota.

Metode
- Diskusi
Jadwal Acara

Jam

Materi

07.30 – 08.30

Pendaftaran dan Coffee Break

08.30 – 08.45

Pembukaan (Dekan FK UGM)

SESI I

08.45 – 09.30

Kebijakan SIKDA dan SIKNAS (Pimpinan Pusdatin Depkes)

09.30 – 09.50

Benarkah pengembangan SIKDA saat ini lebih berorientasi tekhnis dan pragmatis semata?

(Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr. PH)

09.50 – 10.10

Aspek organisasi dalam pengembangan SIKDA: Struktural, fungsional atau tanpa bentuk?

(Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD)

10.40 – 11.00

Model sistem insentif bagi tenaga fungsional SIKDA (dr. Andreasta Meliala, M. Kes. Dipl. PH)

11.00 – 11.20

Prospek dan strategi penerapan jabatan fungsional pranata komputer organisasi kesehatan.

(Anis Fuad, DEA)

11.20 – 11.40

Peran Bapelkes dalam persiapan SDM untuk SIKDA. ( dr. Dwi Handono S, M.Kes)

11.40 – 12.10

Diskusi (Moderator: Luthfan Lazuardi, PhD)

12.10 – 13.00

ISHOMA

Pembahas

13.00 – 13.20

Kesulitan & Hambatan dalam Pengembangan SIKDA. (Ibu. Azsri Krisnamurti

Kadinkes Wonosobo)

13.20 – 13.40

Kesulitan & Hambatan (Dr. Sururi)

13.40 – 14.10

Diskusi

(Moderator : dr. Andreasta Meliala, M. Kes. Dipl. PH)

14.10 – 14.25

Penutupan & coffee break

Informasi Pendaftaran
1. Sekretariat S2 KMPK : Sary, no.telpon: 547659, no.fax: 542900
2. Sekretaria S2 Simkes : Rosita, no.tlp: 549432, no. fax: 549432

Pelaksanaan
Hari/tanggal : Sabtu, 17 Maret 2007
Jam : 07.30 – 15.00 WIB
Tempat : Auditorium Gedung Ismangoen FK UGM

Kontribusi Peserta
Umum                                                    Rp. 125.000
Alumni S1 & S2 FK UGM                   Rp. 100.000
Mahasiswa S1 & S2 FK UGM             Rp. 75.000
Fasilitas :(CD program & materi,sertifikat, seminar kit, konsumsi ( 2 kali coffe break, lunch))
(Kerjasama Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Magister Sistem Informasi Manajemen Kesehatan)

EVALUASI PENERAPAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

(Sugeng Wiyana)

Salah satu pertanyaan dalam evaluasi penerapan sistem informasi kesehatan adalah : Apakah sistem Informasi bekerja lebih baik dari sistem sebelumnya?

Dalam implementasi sistem komputer dibutuhkan biaya untuk pengadaan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan pelatihan pengguna misalnya petugas entry data. Evaluasi sistem harus ditujukan pada manfaat sistem misalnya efisiensi operasional, apakah sistem komputerisasi telah menghasilkan penghematan misalkan dalam hal waktu yang dibutuhkan dalam pengumpulan dan analisis data? jika tidak, apakah dengan sistem komputerisasi memungkinkan penambahan dan analisis data yang bernilai dari segi waktu dan biaya (misalkan meningkatkan kepuasan pasien dan dokter atau pelayanan yang lebih baik terhadap pasien)?.

Apakah sistem bekerja lebih baik dari sistem sebelumnya maka model perubahan yang dapat dievaluasi adalah model perubahan eksternal force (peralatan sistem yang baru), dan model perubahan kebutuhan pengguna. Metode yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi adalah :

1. Metode kualitatif melalui wawancara, observasi dan dokumentasi

2. Metode Survey

3. Eksperimen semu

4. Metode simulasi

5. Cohort/time series study

6. Analisis biaya – manfaat

Berikut ini beberapa hal yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dengan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi dan dokumentasi :

Wawancara

Wawancara dapat dilakukan terhadap pengguna baik pengguna langsung (petugas entri data) ataupun pengguna tidak langsung misalnya kepala bagian atau bahkan terhadap direktur. Pertanyaan dapat ditujukan untuk mengetahui manfaat yang diharapkan untuk perbaikan pelayanan. Pertanyaan yang diajukan misalnya :

- Apa manfaat yang anda harapkan dari penerapan sistem komputerisasi ini? – Perubahan penting apakah yang telah diakibatkan oleh sistem komputerisasi ini? – Bagaimana komentar anda dengan sistem ini?

Observasi

Observasi dapat dilakukan dengan mengamati secara langsung sistem komputerisasi, misalkan dengan mengamati bagaimana rekam medis pasien yang dihasilkan dengan sistem komputerisasi dibandingkan jika dilakukan secara manual

Dokumentasi

Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh sistem komputerisasi, apakah lebih tepat, cepat dan akurat dibandingkan dengan dokumen yang dihasilkan oleh sistem sebelumnya


Prakata

simkes-kelas


Salam ....

Terima kasih atas kunjungan anda di Weblog Karya Siswa Sistem Informasi Kesehatan [SIMKES] IKM UGM Angkatan 2006. Saya mengundang pula kepada kawan-kawan kiranya dapat berpartisipasi menuangkan saran dan pemkirannya lewat Weblog ini.


Wasalam ....

Arsip Tulisan Kami

Blog Stats

  • 265,641 Kali di Baca

RSS DetikiNet

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.