Arsip untuk September, 2006

Rencana Studi ke Purworejo

Selamat berpuasa Pak Anis

Pak bagaimana kelanjutan rencana studi banding dinkes prov kepri ke purworejo. Surat dari kepri apa sudah diterima. Pihak Purworejo juga sudah dikirim surat, tetapi belum ada balasan. Mohon difasilitasi Pak dengan Dinkes Purworejo.

Pak, elearning simkes nya kok tak bisa di akses (pesannya masih dalam tahap perbaikan)

trus gimana mendapatkan informasi terbaru dan tugas-tugas bagi PJJE Kepri ? Kalau ada tugas buat teman2 reguler, kami PJJE huga di beri info ya Pak,

Terimakasih Pak, selamat berpuasa juga bagi teman2 Reguler

APLIKASI UNTUK DATA SET ESENSIAL BERBASIS SISTEM KOMPUTER UNTUK MENDUKUNG PERAWATAN IBU DAN ANAK

K. MOIDUa,b

“Department of Medical Informatics and bDepartment of General Practice, Faculty of Health Sciences, University of Linkiiping, S 581 83 Linköping (Sweden)

(Received March lOth, 1992)
(Accepted April 13th, 1992)

Oleh:

Mayyulisda
Mohammad Adib
Moch. Boedi Soetanto
Ni Nyoman Kristina

Software aplikasi sederhana dan fungsional dikembangkan untuk mendukung perhatian provider pada manajemen informasi yang berkaitan dengan aktivitas perawatan perinatal, keluarga berencana, dan imunisasi bayi. Software ini didistribusikan ke beberapa tapak atau situs tanpa perubahan organisasional. Sebagai penilaian awal setelah implementasi software adalah dengan observasi dan pengalaman yang dilaporkan. Penilaian tersebut menggunakan model OUST. Objectives untuk meningkatkan nilai informasi yang didapat secara parsial. Utility, alat untuk melihat atau meng-observasi kemampuan pengguna di situs untuk mengindentifikasi kebutuhan komunitas lokal dan penerimaan strategi yang tepat. Social impact, teramati dari asistensi untuk melacak kasus dropout dari program imunisasi pada suatu situs, dengan demikian dapat dipastikan kualitas dalam pelayanan dan juga keuntungan ekonomisnya. Dari Technical standpoint, dari segi teknis software hanya berfungsi kecil dan termasuk dalam memastikan kualitas data. Software didesain untuk membuat identitas unik untuk membantu follow-up populasi target. Software ini adalah alat koleksi data yang dapat membantu membuat data regristrasi untuk outcome penelitian kesehatan.

1. Pengantar

Tujuan universal organisasi kesehatan adalah menyediakan layanan kesehatan yang berbiaya efektif (cost effective), sesuai kebutuhan masyarakat, yang mudah dijangkau dan diterima oleh seluruh anggota masyarakat. Hal ini sesuai dengan deklarasi Alma Ata yang secara konseptual mendeskripsikan, bahwa pelayanan primer kesehatan adalah (1) Pusat Pelayanan Kesehatan (di Indonesia = Puskesmas) berfungsi melayani perawatan kesehatan dan mengimplementasikan program kesehatan. Program kesehatan masyarakat mempunyai komponen utama preventif dan prophylactic, keuntungan ekonomis dalam pencegahan dan membantu mengurangi ketidaksamaan perawatan kesehatan. (2) Tingginya angka kematian maternal disebabkan oleh kehamilan dan kematian bayi disebabkan oleh penyakit infeksi, program kesehatan ibu dan anak merupakan program dunia (3) Ini merupakan program layanan yang berada di Puskesmas, khususnya di negara-negara berkembang, dimana kejadian kematian maternal di negara-negara berkembang jauh lebih tinggi dibanding di negara-negara maju.

Pada akhirnya beberapa pengukuran riset pelayanan kesehtan dilembagakan untuk memperkuat infrastruktur di Puskesmas dan untuk meningkatkan perawatan. Di Swedia penguatan ini berbuah pengurangan perawatan di tempat sekunder. Salah satu yang menjadi perhatian adalah infrastruktur informasi, National Health Information System menggambarkan “lemah dan tidak bisa dipakai untuk memberi pelayanan program kesehatan”. Potensi telematik untuk mendukung layanan kesehatan dengan informasi intensif dipaparkan oleh kelompok ahli di WHO. Dengan sengaja dipaparkan kemungkinan keuntungan sistem mikrokomputer dan indentifikasi kelangkaan software yang khusus untuk program kesehatan. Makalah ini melaporkan projek riset pengembangan software untuk penguatan infrastruktur informasi, khususnya untuk aplikasi dengan karakteristik umum untuk diterapkan pada perbagai tempat (situs). Aplikasi yang dikembangkan untuk mendukung program kesehatan ibu dan anak.

Penilaian pentingnya penggunaan komputer dilakukan setelah berapa-berapa waktu digunakan. Clayton mengakui kesulitan penilaian prematur, dia menyarankan bahwa implementasinya menyertakan interes pengguna dan otoritas keuangan. Software telah dites di laboratorium untuk memenuhi semua ketentuan pengumpulan dan pencatatan oleh pelayanan kesehatan. Software dikembangkan di Department of Medical Informatics Linköping, di bawah persetujuan Programme of Quality in Care and Technology at the European Regional Office of WHO. Software bebas (public domain) diberikan kepada tapak yang ikut dalam projek.

Penguatan infrastruktur informasi akan berpengaruh terhadap seluruh organisasi, dan penilaian awal harus merujuk pada dukungan pada manajemen informasi dan dampak resultant. Tulisan ini melaporkan pengalaman awal sebuah penilaian atas penerapan software di lingkungan dunia nyata. Penilaian menggunakan framework model OUST.

2. Materi

Deskripsi tentang software, diikuti deskripsi tentang tempat dan organisasi, dan akhirnya deskripsi tentang sumber daya manusianya.

2. I Software

Ada berbagai macam program MCH di berbagai negara, tetapi komponen esensialnya adalah pelayanan selama kehamilan dan persalinan, keluarga berencana, dan pencegahan penyakit menular untuk bayi dengan program imunisasi. Software didesain untuk mendukung pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas untuk mendukung informasi manajemen informasi program kesehatan. Disimpulkan untuk meningkatkan kualitas data diintegrasikan pembuat keputusan di semua level organisasi kesehatan juga mendukung penelitian kesehatan. Dengan mengembangkan database masyarakat, dapat memastikan kontinuitas perawatan di antara target populasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Software berjalan pada komputer IBM kompatibel (microcomputer) dengan prosesor INTEL 8088 atau lebih tinggi (misalnya 80286 atau 8086) dan dengan memori minimum 512kb. Sistem operasi yang dibutuhkan adalah PC/MSDOS versi 2.0 atau lebih. Komputer harus mempunyai floppy disk untuk instalasi software dan hard disk dengan sisa space setidaknya 2MB untuk menyimpan data:

• Interface menu di-compile dengan menggunakan Clipper, sehingga software dapat dijalankan langsung dari DOS
• File disimpan sebagai data (*.dbf), index (*.ndx), dan file report dengan format (*.frm)

Software didistribusikan dalam 1 floppy disk, besar file 302kb. Software dites di laboratorium dengan data entri dari Pusat Kesehatan Maternal Swedia dan dibandingkan dengan data dari India. Software didistribusikan dan dilengkapi dengan manual dan formulir untuk pencatatan data manual, misalnya MCH-EDS I/90 untuk kunjungan perawatan perinatal, MCH-EDS 2/90 yang berkenaan dengan pencatatan kunjungan keluarga berencana dan imunisasi, MCH-EDS 3190 untuk pencatatan data baseline.

2.2 Situs dan populasi target

Tiga situs ikut berpartisipasi, semua dibawah kontrol non-governmental organizations (NGO/LSM). Alasan utama memilih LSM adalah untuk menghinari duplikasi sistem informasi aktivitas dalam situs, karena pemerintah mengeluhkan desain sistem pelaporan, sedang LSM mempunyai fleksibilitas untuk mengikuti suatu sistem. Dan LSM sering bekerja sama dengan infrastruktur pemerintah. Pada paper ini akan dipresentasikan pengalaman dari ketiga situs tersebut.

Salah satu yang ikut bergabung adalah Bhoruka Charitable Trust (BST) dan apotiknya, terletak di lingkaran gurun, Bhorugram adalah situs yang operasional. Software diinstalasi pada komputer PC-XT yang tersedia di situs. Masalah yang timbul adalah kontinuitas daya listrik, dan generator listrik darurat dipasang oleh BCT. Enam desa yang dijadik populasi target, sedang BCT mempunyai wilayah pengembangan sosial-ekonomi yang mencakup 100 desa.

Situs lain yang ikut bergabung adalah Pravara Medical Trust and Rural Medical College (PMT-RMC) di Loni, Distrik Ahmednagar, Maharashtra. Situs ini adalah Puskesmas di Loni dan Rahata. Puskesmas ini dibawah kontrol teknis PMT-RMC, dan staf PMT-RMC bertugas pada pendampingan pasien, disamping petugas kesehatan (staf reguler Puskesmas). Software diimplementasikan pada komputer PC-AT yang membuat ada pusat komputer di rumah sakit. Sumber listrik stabil, generator darurat dipakai untuk keperluan rumah sakit, yang tentu untuk pusat komputer juga. Populasi yang memerlukan pendampingan untuk prenatal, keluarga berencana, dan imunisasi di klinik Puskesmas merupakan target grup. PMT-RMC adalah institusi yang menyediakan pendidikan kesehatan untuk setting pedesaan dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat pedesaan.

Setiap situs mempunyai pendekatan berbeda untuk mengadaptasi, yang disebabkan perbedaan medan, manajemen dan sumber daya. Pengalaman di kedua situs adalah unik. Kedua organisasi bekerjasama dengan otoritas kesehatan pemerintah dalam meluncurkan program KIA. Manajemen kedua organisasi mendukung projek implementasi dengan sumber daya masing-masing. Software diberikan dengan disertai petunjuk cara pemakain (user manual) dan satu set formulir, namun tanpa disertai biaya. Situs-situs di bawah PMT-RMC yang mempunyai beberapa center mendahului menerapkan software. Situs di bawah BCT adalah situs baru dan pertama mereka menghubungi situs untuk menerapkan software.

2.3 Sumber daya manusia

Dalam implementasi sistem informasi berbasis komputer hal yang fundamental yang harus diperhatikan adalah manusia penggunanya. Mereka adalah sumber utama untuk data dan pelaku data dalam sistem informasi berbasis komputer. Saltu premis dalam desain software aplikasi adalah jika data pertama digunakan untuk mendukung pelayanan kesehatan maka data akan menjadi makin akurat. Di apotik Bhorugram dokter dan ahli farmasi diindentifikasi sebagai pengguna sistem komputer. Auxiliary Nurse Midwifes (ANMs) bertanggungjawab atas desa, sedang Community Health Workers (CHWs) memberi layanan kesehatan dan menyediakan data rutin dari lapangan. non-formal educators (NFEs) normalnya merespon pusat pendidikan non-formal dan mengatur hubungan antara pelayanan kesehatan dengan masyarakat. NFE adalah tenaga yang hanya ada di situs. Salah satu anggota Tim Projek MCH (A.K. Singh) bekerja situs selama periode pelaporan.

Di Puskesmas Loni dan Rahata, di bawah PMT-RMC, mahasiswa-mahasiswa kedokteran menjadi pendamping sebagai bagian dari program pendidikan masyarakat. Dan secara intens dirotasi setiap 6 bulan. Dengan demikian sumber tenaga kerja merupakan tenaga intern, dan mereka adalah tenaga kesehatan dibawah supervisi staf akademik PMT-RMC. Mereka mengambil data pasien saat mereka berkunjung ke Puskesmas dan memasukkan data ke sistem komputer rumah sakit.

3. Metode

Desain keseluruhan projek adalah menyediakan software bagi beberapa situs yang setuju untuk berpartisipasi, dipilih dari dukungan implementasi dan periode setelah implementasi, dengan membandingkan pengalaman kedua grup situs yang menerima support dan tidak. Report ini adalah penilaian awal implementasi software dan mencakup pengalaman ketiga situs yang mendapat support implementasi. Software dibuat dengan menggunakan data esensial, bebas dari karakteristik organisasi. Dengan demikian secara teoritik dapat diterapkan pada tingkat Puskesmas pada berbagai organisasi. Pada manual yang didistribusikan bersama software disebutkan berbagai metode implementasi. Organisasi kesehatan mempunyai beban masing-masing dapat memilih salah metode yang sesuai dengan fungsi dan style masing-masing dengan memperhatikan sumber daya. Software dapat digunakan dalam berbagai cara:

Modus Off-line: komputer diletakkan jauh dari situs dan formulir digunakan untuk pengumpulan data, data dimasukkan secara periodik ke dalam komputer. List dan report feedback dibuat setiap saat setelah data dimasukkan.

Modus semi on-line: komputer tersedia di situs, tetapi data dikumpulkan dengan formulir kemudian dimasukkan ke dalam komputer sebelum 24 jam. List dan report dibuat sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Modus on-line: komputer ditempatkan di kantor pelayanan, data dimasukkan langsung setiap kali ada yang datang. Hasilnya adalah paper-less, list dan report dibuat setiap dibutuhkan.

Direkomendasikan untuk melaksanakan survai baseline untuk meluaskan pemanfaatan pelayanan Puskesmas pada masyarakat. Ini juga akan berakibat pada pembuatan database dan target populasi dalam masyarakat. Metode ini diadaptasi oleh situs yang dideskripsikan di bawah ini.

Di Bhorugram

Apotik dimasukkan dalam pelayanan kesehatan, dengan tanpa pelayanan perinatal, segera diputuskan untuk memulai survai baseline. Formulir survai baseline diterjemahkan ke dalam dialek setempat dengan beberapa modifikasi sesuai kebutuhan situs. CHW dan NFE dilatih dan diminta untuk mengumpulkan data, validasi dilakukan untuk data yang dikumpulkan dari 20 desa, juga diputuskan tidak mengambil data dari 6 desa yang sangat sulit dijangkau. Data baseline dimasukkan dalam sistem komputer, lalu juga semua kunjungan yang masuk grup target program pelayanan MCH dalam modus semi on-line. Output yang dihasilkan komputer mencakup daftar untuk membantu CHW untuk follow-up mereka yang risiko tinggi dan yang drop-out dari program imunisasi. NFE sebagai agen perubahan, membantu mengindentifikasi kehamilan baru dalam masyaraka, dan memastikan pendampingan untuk grup target yang membutuhkan check-up dan imunisasi.

Selama periode survai baseline, data dari aktivitas imunisasi dimasukkan ke dalam sistem aplikasi. Ini menyediakan kepada kami ukuran untuk evaluasi kesuksesan aktivitas imunisasi dengan jumlah mereka yang menerima dosis ketiga dari tiga dosis antigen dan vaksin oral polio. Data dari fase non-intervensi dan manajemen informasi manual dibandingkan dengan data dari fase sistem informasi berbasis komputer.

Para dokter dan ahli farmasi yang dibuat akrab dengan komputer dan data survai baseline mempunyai pengalaman yang berlebih. Pelatihan penggunaan software dilakukan berulangkali secara periodik, seperti perubahan dokter di apotik, juga diadakan pelatihan untuk analisis dan interpretasi data. Ahli farmasi di situs menjadi mahir menggunakan komputer dan memasukkan kembali list yang dihasilkan ke dalam dialek dengan software pengolah kata, dengan demikian tersedia daftar dalam dialek lokal untuk follow-up oleh CHW dan NFE.

Di Loni dan Rahata

Di kedua situs di bawah PMT-RMC strategi umum adalah sebagai berikut. Internis di kedua Puskesmas dan supervisornya, staf PMT-RMC, memberikan pelatihan menggunakan software selama satu hari dan menjelaskan bagaimana mengerjakan dan mengorganisasi formulir pengumpulan data. Data dikumpulkan dari kunjungan ke target grup ke Puskesmas. Software diinstal di pusat komputer rumah sakit PMC-RMC. Internis dari Loni memasukkan data 2 kali seminggu, sedang internis di Rahata setiap minggu. Pengalaman membuat report pertama dilakukan internis di Loni. Internis di situs yang mendapat dan jarang mendapat pelatihan mendapatkan kesukaran untuk mengikuti projek.

4. Hasil

Penilaian pengalaman menggunakan software dideskripsikan dengan framework model OUST. Model ini menggambarkan penilaian dari awal sampai saat ini dalam penggunaan sistem informasi berbasis komputer yang diterapkan di organisasi pelayanan kesehatan.

Objektive sistem informasi berbasis komputer adalah untuk meningkatkan nilai informasi, misal akurasi, dan validasi untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Tiga logika validasi dibuat untuk field logikal, misalnya untuk membeda antara “Tidak” dengan “Tidak Tahu”. Kombinasi definisi field logikal dan field yang membolehkan kelengkapan isian teks dalam koleksi data. Aktualitas data tergantung model implementasinya. Peningkatan yang nyata untuk nilai jadwal dihasilkan dari saat implementasi komputer di situs. Faktor penerimaan informasi tepat waktu terjadi Bhorugram, sejak komputer tersedia di situs.

Potensi penggunaan ganda atas data pada saat yang sama dimasukkan ke dalam software, karena report dikompilasi dari data yang telah dimasukkan. Report administratif dikompilasi dari data yang dimasukkan di Puskesmas Loni dari bulan Oktober 1990 sampai Februari 1991, sebagaimana yang tampak pada Fig. 1. Laporan program MCH dan FP pada suatu bulan, misalnya Oktober dihasilkan dari data yang telah dimasukkan, dan printout dibuat jika dibutuhkan. Dimungkinkan untuk menggunakan data berkali-kali sesudah data dimasukkan ke dalam komputer,misalnya kejadian kehamilan terdahulu yang tersedia dalam database dapat dianalisis belakangan. Bila tidak ada jaringan komunikasi maka update tidak mudah dilakukan.

Penilaian atas Utility sistem komputer untuk pelayanan kesehatan adalah sulit. Salah satu aspek adalah kemampuan pengguna sistem kompuer. Pengguna di Loni melaporkan bahwa penggunaannya tidak sulit, masalahnya pada kesulitan menggunakan keyboard komputer, tapi hal berlangsung singkat.

Otoritas administratif PMT-RMC dihasilkan dari report yang dihasilkan (generate) dari Puskesmas, yang dapat mengindentifikasi miskin referensi follow-up atas drop-out, dan dropout dari kunjungan prenatal, yang diamati dari buruknya outcome, meningkatnya lahir mati. Mereka diindentifikasi membutuhkan peningkatan aksi pada masyarakat pada populasi target, dan peningkatan fasilitas transportasi untuk pasien dengan komplikasi selama persalinan yang dapat menurunkan lahir mati.

Penggunaan juga tergantung pada akurasi data dan kemampuan menganalisis data dan mendapatkan informasi untuk aksi. Di Bhorugram, menyediakan data yang sangat besar dan berbagai kemungkinan analisis tabel, para penyedia layanan kesehatan di apotik dapat menggambarkan bahwa wanita kelompok umur lebih dari 28 tahun mempunyai anak lebih banyak dibanding yang berumur kurang dari 28 tahun (P = 0.0001). Analisis lebih lanjut memperlihatkan setiap rumah tangga mempunyai setidaknya 2 anak laki-laki, mereka mengindentifikasi 40 wanita berusia kurang dari 28 tahun mendapatkan penyuluhan intensif untuk menggunakan metode kontrasepsi mantap, sesuai keinginan 10 diantara 40 wanita tersebut menerima tubektomi (lihat tabel 1).

Kegunaan dari software adalah kemampuannya untuk membandingkan dari dari situs yang berbeda. Dengan membandingkan report dari data umum yang dikumpulkan, dapat dihasilkan situs dengan hasil terbaik, kemudian dengan investigasi lebih lanjut tentang proses pelayanan dapat diketahui alasan kesimpangsiuran untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Di rumah sakit PMT-RMC mereka juga menerapkan sistem komputer tersebut di bagian obstetrik, tabel II memperlihatkan data dari laporan yang berhubungan dengan kunjungan parturition di rumah sakit, kedua Puskesmas di Loni dan Rahata dibandingkan. Semua parturition di rumah sakit Pravara, dalam semua kasus didampingi oleh dokter, pada laporan Puskesmas proses parturition didampingi oleh bidan, dukun terlatih, dan kadang-kadang yang lain. Diketahui bahwa di Puskemas berat badan bayi baru lahir lebih sering tidak dicatat, dan kejadian BBLR rumah sakit (

Blog baru tentang SQL dan ilmu kesehatan

Sampai detik ini, blog yang menulis tentang informatika kesehatan (dalam bahasa Indonesia) masih belum banyak. Mas Dani Iswara sudah memulai sejak setahun yang lalu. Ada juga pak Rano Indradi melalui Rano Centernya. Mas Agus Mutamakin membuat blog yang berisi topik-topik informatika kesehatan yang bermutu tinggi dan kaya referensi. Mas Harmi, seorang programmer, juga cukup rajin menulis di blognya. Sekarang, bertambah satu blog baru dari mas Adiet, seorang programmer dan analis yang sudah sangat lama berkecimpung dalam pengembangan informatika kesehatan. Melalui blognya yang bertitel SQL dan Ilmu Kesehatan, dia membuat tutorial mengenai mysql dengan contoh kasus di lingkungan kesehatan. Kaya dengan pengalaman serta uptodate dengan perkembangan ilmu pengetahuan menjadikan tutorial dalam blog tersebut sangat berisi dan mudah dicerna. Menurut saya, ini merupakan blog yang wajib dikunjungi (dan isinya harus dimengerti) oleh mahasiswa SIMKES, apalagi yang sedang hangat-hangatnya belajar database.

Selamat ber-blogwalking…..

by Anis

KEADAAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN PROVINSI GORONTALO

Provinsi Gorontalo diresmikan pada tanggal 16 Februari 2001, Sebagai Provinsi baru masih banyak kekurangan sarana dan prasarana begitu pula dengan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dan yang paling dirasa adalah tidak tersedianya data dan informasi Kesehatan di Tingkat Provinsi untuk Pengambilan Kebijakan dalam penyusunan Program Pembangunan Kesehatan Tingkat Provinsi Gorontalo,disamping itu dalam struktur Dinas Kesehatan tidak ada penanggungjawab khusus di bidang data dan informasi, yang menangani data dan informasi melekat pada Seksi Perencanaan.

Dengan kondisi tersebut diatas maka Seksi perencanaan mencoba untuk melakukan pengumpulan data di Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Hasilnya tidaklah maksimal karena di Kabupaten/kota datanya tidak lengkap, ada beberapa faktor yang menyebabkan data di tingkat kabupaten/kota tidak lengkap

1. Tidak Lengkap laporan dari puskesmas
2. tidak ada penanggungjawab data di tingkat kabupaten kota
3. data ditingkat kabupaten kota tidak terintegrasi dengan baik

Berdasarakan hal tersebut diatas maka Provinsi Gorontalo berinisiatif membentuk tim pengelola data yang bertanggungjawab dalam hal pengumpulan, pelaporan dan analisis data, tim ini dinamakan TIM PENGELOLA SISTEM INFORMASI KESEHATAN PROVINSI GORONTALO. Tim ini terdiri dari Unsur Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dan Unsur Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Anggota tim ini terdiri dari Unsur Provinsi berjumlah 5 orang mewakili 5 Subdinas/Bidang yang ada, sedang dari kabupaten/Kota anggotanya 4 orang terdiri dari 2 orang dari unsur Dinas Kesehatan dan 2 orang mewakili Rumah Sakit Daerah.

Sejak Pembentukan Tim ini pada tahun 2002 ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh TIM Pengelola SIK ini yang terbagi menjadi 2 kegiatan utama :

1. Kegiatan Rutin meliputi :
     a. Pengumpulan data
          Pengumpulan data yang dilakukan oleh Pengelola Kabupaten/kota yaitu
    pengumpulan di masing-masing Puskesmas, sedang Pengumpulan data yang dilakukan
  oleh Provinsi adalah pengumpulan di Dinas Kabupaten/Kota
     b. Integrasi Data di masing-masing unit
         Hasil data yang di kumpulkan oleh pengelola di integrasikan dengan data yang ada
    di masing-masing program, disamping itu ada kegiatan yang rutin dilaksanakan pada
  pertengahan tahun yaitu Pertemuan Pemutahiran data Tingkat Provinsi yang Tujuannya
  mengintegrasikan data yang telah dikumpul.
     c. Pengolahan Data
     d. Analisis data
     e. Penyajian data (dalam bentuk Profil Kesehatan)

2. Kegiatan Insidentil
     Kegiatan insidentil ini adalah berupa :
     a. pelatihan bagi pengelola SIK, diantaranya adalah Pelatihan Sistem Informasi Kesehatan
  yang dilaksanakan pada tahun 2004 serta pelatihan Sistem Informasi Geografi yang akan
  dilaksanakan pada tahun 2007
     b. Pengadaan Sarana dan Prasarana yang menunjang Pelaksanaan Sistem Informasi
  Kesehatan
     c. Pertemuan-pertemuan membahas kesepakatan-kesepakatan pelaksanaan kegiatan
  diantaranya pertemuan pembahasan Indikator Standar Pelayanan Minimal yang akan di
  berlakukan di Provinsi Gorontalo dan Pembahasan Format Profil sesuai dengan kebutuhan.

Dari awal terbentuknya tim pengelola SIK Provinsi sampai dengan sekarang ada beberapa masalah yang ditemui diantaranya adalah
1. Belum seragamnya data di masing-masing program baik itu di tingkat provinsi maupun  di
  tingkat kabupaten/kota contohnya data tentang jumlah Balita antara Gizi dan KIA tidak sama
2. Terjadinya Duplikasi data sehingga di akhir tahun jumlah maupun cakupan program pada
  masing-masing program tidak sama/konsisten.
3. Data yang ada di kabupaten/kota belum tersimpan/tertata dengan dengan baik
4. Tidak lengkapnya data yang ada di Kabupaten/kota sehinga tidak bisa di analisisa
5. Penyebab tidak lengkapnnya data di Kabupaten Kota disebabkan oleh pencatatan dan
  pengumpulan data di Puskesmas Masih dilakukan dengan cara manual

mencermati masalah diatas maka saya mencoba menyimpulkan bahwa masalah diatas terjadi dikarenakan belum adanya database/Bank data baik di tingkat Puskesmas maupun di tingkat kabupaten kota.

berdasarkan kesimpulan diatas maka saya mencoba mengangkat topik tesis yaitu
“PENGEMBANGAN PROTOTYPE PENCATATAN DAN PELAPORAN DI TINGKAT PUSKESMAS BERBASIS WEB” 


by Alfred Saleh
http://alfredsaleh.blogspot.com

Judul Tesis

Berikut ini link ke judul tesis di konsentrasi SIMKES Magister IKM Undip

http://www.mikm-undip.or.id/data/find.php?cari=&action=submit&minat=Sistem+Informasi+Kesehatan&submit=Cari

 

Gambaran Penerapan SIK di Sulsel

Sudarianto (Sudarku@yahoo.co.id) Dinkes Prov. Sulsel)
Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/ Kota adalah tulang punggung bagi pelaksanaan Pembangunan Daerah berwawasan kesehatan di kabupaten/ Kota yang bersangkutan, oleh karena itu sistem ini diharapkan dapat menyediakan data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan sebagai landasan bagi para penentu kebijakan dalam pengambilan keputusan berlandaskan fakta (evidence based decision making).
Kebutuhan informasi untuk pengambilan keputusan di berbagai jenjang administrasi di lingkungan Dinas Kesehatan menuntut kemampuan penyediaan informasi yang memiliki akurasi dan validasi tinggi baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat. Kualitas informasi ini ditentukan antara lain oleh kualitas perangkat keras dan perangkat lunaknya, serta yang terpenting adalah kualitas manusia yang berperan sebagai pengelola dan pengguna informasi tersebut.
Permasalahan yang sangat mendasar adalah hingga saat ini belum pernah dapat disajikan data benar-benar sesuai fakta, meskipun pemerintah (baik pusat maupun daerah) telah berupaya menangani persoalan tersebut namun hingga saat ini yang ditangani hanyalah pada permukaan saja tanpa menangani yang lebih mendasar yakni pada pencatatan dan pelaporan secara mendasar di tingkat Puskesmas.
Di Sulawesi Selatan, secara internal, pelayanan kesehatan di puskesmas banyak mengalami hambatan dalam pengelolaan data, hal ini dikarenakan jumlah data yang sangat besar, sebab pencatatan data dilakukan berulang-ulang (terjadi redudansi data) mengakibatkan data membengkak dan pelayanan menjadi lambat, penyimpanan data yang belum terpusat (unintegrated data) mengakibatkan data tidak sinkron, informasi pada masing-masing bagian memiliki asumsi yang berbeda-beda. Hal ini dapat diperparah lagi dengan adanya human error dan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung pengolahan data. Secara eksternal, globalisasi menjadi pemicu perubahan dan tantangan saat ini, perkembangan teknologi dan telekomunikasi informasi membentuk suatu dunia baru tanpa batas. Globaliasasi ini mengharuskan sektor kesehatan melakukan peningkatan daya saing.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pada bulan pebruari 2006 tim sekretariat data dan informasi kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan melakukan need assesment dalam rangka penyusunan kerangka Sistem Informasi Kesehatan di Sulawesi Selatan untuk menata sistem informasi kesehatan yang ada khususnya dalam menginventarisir kebutuhan data/informasi untuk transaksi dan layanan serta menginventarisir kegiatan dan pelayanan publik pada masing-masing unit untuk penyusunan struktur dan database relasional di Kab/ Kota uji coba yaitu Kab. Bantaeng dan Kota Palopo yang dilanjutkan dengan work shop hasil need assesment. Dari hasil work shop inilah direkomendasikan kebutuhan-kebutuhan dipuskesmas yang akan menjadi dasar penyusunan struktur database.
Program yang dipilih untuk digunakan dalam rangka pengelolaan data base pada Kab/ Kota uji coba tersebut adalah foxbase dengan pertimbangan program ini mempunyai kapasitas rendah dengan mengingat rata-rata komputer yang digunakan di puskesmas adalah komputer biasa (non pentium).
Setelah penyusunan struktur database, mulai 1 Mei 2006 sampai 14 Agustus 2006 tim sekretariat data dan informasi kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan telah melatih tenaga pengelola database puskesmas sebanyak 316 orang dan 23 orang pengelola SIK Kab./ Kota tentang pengoperasian struktur database kunjungan pasien tersebut.

Target propinsi adalah setiap puskesmas memiliki minimal satu komputer untuk mengoperasikan program ini. Kemudian diback up ke Kab./ kota dan selanjutnya sampai di propinsi. Prinsip kerja di tingkat Kab./ Kota dan propinsi hampir sama, yaitu Dinas kesehatan Kab./ Kota menggabung data dari semua puskesmas, dan begitupun propinsi menggabung data dari seluruh kabupaten/ kota. Database yang dientri di puskesmas semua terback up sampai di propinsi, hal ini dilakukan karena sistem jaringan belum terhubung dari puskesmas ke kabupaten/ kota dan propinsi.

Timbul pertanyaan :
1.Sejauh mana keberhasilan penerapan pengelolaan database kunjungan pasien di puskesmas se
Sulawesi Selatan ?
2.Apakah yang mendorong dan menghambat penerapan pengelolaan database kunjungan pasien
di puskesmas se Sulawesi Selatan ?
3.Strategi apa yang akan diterapkan untuk mengembangkan pengelolaan database yang
terintegrasi kesemua program kesehatan di Sulawesi Selatan ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas harus dilakukan penelitian. Apakah judul penelitian yang tepat untuk menjawab pertanyaan di atas ?

Selamat ber “Studi Lapangan”

Saya ucapkan selamat kepada seluruh rekan-rekan kelas SIMKES, atas kegiatan studi lapangannya ke Purwuredjo, semoga hasil observasinya menjadi pengalaman belajar yang baik untuk rekan-rekan. Dan jangan lupa kirimkan ya ke saya hasil yang didapat disono.

Wassalam, Said Damrie.


Prakata

simkes-kelas


Salam ....

Terima kasih atas kunjungan anda di Weblog Karya Siswa Sistem Informasi Kesehatan [SIMKES] IKM UGM Angkatan 2006. Saya mengundang pula kepada kawan-kawan kiranya dapat berpartisipasi menuangkan saran dan pemkirannya lewat Weblog ini.


Wasalam ....

Arsip Tulisan Kami

Top Clicks

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 264,478 Kali di Baca

RSS DetikiNet

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.